Metode Pembelajaran Inovatif: “The Use of Drama in Medical Education: Teaching and Conflict Management Education“

 

Pada tanggal 3 September 2019 Program Studi  S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan workshop dengan narasumber Professor Margret Lepp, seorang ahli di bidang pendidikan keperawatan dan tenaga kesehatan dari Institute of Health and Care Sciences, University of Gothenburg, Swedia. Bekerja sama dengan Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas FK-KMK UGM, workshop yang mengusung tema “The Use of Drama in Medical Education: Teaching and Conflict Management Education” ini terselenggara  dalam rangka meningkatkan peran dan kapabilitas mahasiswa S2 sebagai upaya mewujudkan kerja sama inter-professional education dan manajemen konflik. Dalam kesempatan tersebut, terlihat antusiasme peserta  yang terdiri atas 30 orang mahasiswa S2 IPK angkatan 2018, 2019 dan staf di Ruang Studio, Gd. Radioputro Lt. 6 FK-KMK.

Sesuai dengan tema workshop tersebut, narasumber menekankan pentingnya pemahaman cara pendekatan terhadap orang lain, bagaimana cara mengenal orang lain dengan mengedepankan keterbukaan, dan bagaimana membangun “rasa nyaman” dalam berkomunikasi dengan cara mengetahui/mengenal terlebih dahulu lawan bicara. Pengetahuan ini bisa diterapkan dalam hubungan pekerjaan seorang health professional kepada kliennya. Termasuk yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun situasi yang  aman dan nyaman yang membuat lawan bicara bersedia menceritakan hal-hal yang penting.

Dengan drama, dapat diciptakan sarana yang komunikatif dan tidak konfrontatif dalam mengutarakan konflik,” Ungkap Professor Margret.  Ia juga mengajak pemirsa drama untuk menilai secara obyektif, bagian mana dari drama tersebut yang bisa diantisipasi agar tidak terjadi konflik. Pada kesempatan tersebut peserta juga diminta pendapat obyektifnya tentang keadaan yang diceritakan dalam drama.

Professor Margret lebih jauh menerangkan tentang beberapa tipe orang dalam menghadapi konflik yang sangat menarik bagi mahasiswa karena dijelaskan dengan menggunakan gambar garis ordinat dan simbol binatang/hewan.

Menurut Elizabeth Sulastri Nugraheni, salah satu mahasiswa S2 IPK, dengan melihat drama, seseorang dimungkinkan ikut merasakan apa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam drama tersebut. Dan jika direfleksikan atau jika penonton memposisikan dirinya sebagai tokoh utama, maka mungkin akan ada jalan keluar yang lebih baik untuk solusi konflik.

Dalam pungkasan materinya, Professor Margret memaparkan cara penyelesaian konflik dengan mengibaratkan hewan-hewan berikut yang mewakili cara penyelesaian yang diletakkan pada titik ordinat:

  1. Kura-kura (turtle) berada di titik 0 melambangkan tidak berbuat apa apa.
  2. Singa (lion) pada sumbu yang menggambarkan penyelesaian konflik dengan hanya mementingkan diri sendiri.
  3. Unta (camel) yang berada di titik x, cenderung mengalah, yang terpenting apabila lawan bahagia, maka diri akan ikut bahagia.
  4. Rubah (fox) berada di titik tengah, yaitu bertugas untuk menyelesaikan konflik dengan adil= mediasi (yang bagi dua).
  5. Burung hantu (owl) berada di titik yang paling ujung, dimana dalam menyelesaikan konflik harus dipahami dahulu apa yang menjadi konfliknya, kemudian dicari solusi yang paling baik bagi masing masing orang (win-win solution).

(Reporter: Evi Viva Evana dan Elizabeth S.Nugraheni/DPK)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.