
Yogyakarta, 3 Juni 2026 – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan bedah buku bertajuk “Transformasi Asesmen Pendidikan Kedokteran melalui Programmatic Assessment dalam Kerangka Outcome-Based Education (OBE)” di Auditorium Gedung Pascasarjana Tahir Sayap Utara Lantai 1. Kegiatan ini menjadi forum akademik untuk mendiskusikan konsep, tantangan, dan peluang implementasi Programmatic Assessment (PA) dalam mendukung pendidikan kedokteran berbasis luaran (Outcome-Based Education/OBE).
Acara menghadirkan Prof. dr. Mora Claramita, MHPE, PhD, Sp.KKLP Sub COPC sebagai penulis buku Programmatic Assessment dalam Pendidikan Berbasis Outcome / Outcome-Based Education (OBE). Diskusi buku diperkaya oleh pandangan dua pembedah, yaitu Prof. dr. Titi Savitri Prihatiningsih, MA, MMedEd, PhD dan Prof. dr. Eggi Arguni, Sp.A(K), MSc, PhD, dengan dr. Rachmadya Nur Hidayah, MSc, PhD bertindak sebagai moderator.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, PhD, Direktur UGM Press, serta peserta yang mengikuti secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting.
Dalam sambutannya, dr. Hamim menegaskan komitmen FK-KMK UGM untuk terus menjadi pelopor inovasi dalam pendidikan kedokteran.
“FK-KMK UGM selalu menjadi leader untuk berbagai inovasi, khususnya di bidang medical education. Programmatic Assessment merupakan sebuah impian yang tidak mudah dan memerlukan pemahaman terlebih dahulu mengenai konsepnya, bagaimana mekanismenya, dan yang tidak mudah lagi adalah bagaimana implementasinya,” ujar dr. Hamim.
Pada sesi pemaparan, Prof. Mora menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil kolaborasi besar yang melibatkan 78 dosen dari berbagai institusi anggota Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Buku ini menjadi salah satu upaya kolektif untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman mengenai Programmatic Assessment sebagai pendekatan asesmen yang berorientasi pada perkembangan kompetensi peserta didik secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Prof. Mora menyampaikan visi jangka panjang pengembangan asesmen pendidikan kedokteran di Indonesia, yaitu terciptanya basis data pembelajaran yang berkesinambungan (continuous database) yang merekam perjalanan belajar peserta didik sejak pendidikan sarjana kedokteran, rotasi klinik, hingga pendidikan dokter spesialis. Dengan sistem tersebut, rekam jejak kompetensi dan capaian pembelajaran dapat terdokumentasi secara komprehensif sebagai dasar pengembangan karier profesional di masa depan.
Sementara itu, Prof. Titi Savitri Prihatiningsih menyoroti kekuatan utama buku ini yang lahir dari kolaborasi tiga editor dan puluhan kontributor dari seluruh Indonesia. Menurutnya, buku tersebut menghadirkan pembahasan yang komprehensif mengenai berbagai aspek pendidikan kedokteran dan implementasi Programmatic Assessment.
“Buku ini menyediakan banyak ‘menu’ yang lengkap terkait pendidikan kedokteran. Pembaca dapat memahami bahwa asesmen dan kurikulum berbasis OBE harus berjalan secara sinergis untuk mendorong pembelajaran yang bermakna,” ungkapnya.
Prof. Titi juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi Programmatic Assessment tidak hanya bergantung pada sistem asesmen semata. Dibutuhkan dukungan berbagai komponen lain, termasuk pengembangan kapasitas dosen (faculty development), sistem mentoring yang efektif, serta dukungan teknologi informasi untuk pengelolaan portofolio pembelajaran.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Eggi Arguni menjelaskan bahwa terdapat sejumlah komponen kunci yang perlu dipersiapkan agar Programmatic Assessment dapat diterapkan secara optimal. Komponen tersebut meliputi pemahaman yang kuat terhadap prinsip-prinsip dasar asesmen, penggunaan berbagai sumber data melalui proses triangulasi, dokumentasi yang didukung sistem teknologi informasi yang memadai, ketersediaan sumber daya administrasi, serta keterlibatan aktif dosen baik di fakultas maupun rumah sakit pendidikan.
Kegiatan bedah buku ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Quality Education melalui penguatan pemahaman dan implementasi asesmen yang berkualitas untuk mendukung pembelajaran berbasis kompetensi dan luaran. Selain itu, kolaborasi yang melibatkan akademisi dari berbagai institusi pendidikan kedokteran di Indonesia mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, yaitu membangun kemitraan strategis dalam menghasilkan inovasi dan pengembangan pendidikan yang berdampak luas. Melalui penguatan kualitas pendidikan tenaga kesehatan, kegiatan ini juga secara tidak langsung mendukung SDG 3: Good Health and Well-being, karena pendidikan kedokteran yang berkualitas merupakan fondasi penting dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!